Ini beasiswa bergengsi jangan sampai orang beranggapan bahwa negara salah bidik beasiswanya ke kamu

Sudah sebulan lebih saya menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Alhamdulillah, selama studi S-1, biaya kuliah saya ditanggung oleh pemerintah melalui program beasiswa Bidikmisi. Jumlahnya cukup besar, mungkin bisa mencapai puluhan juta per kepala. Ini biaya pendidikan yang tak main-main meskipun kadang lambat cair, hehe (bercanda yeee)
Oke, kali ini saya akan sedikit berbagi untuk teman-teman mahasiswa baru yang telah dinyatakan lulus bidikmisi. Apa yang saya tulis ini merupakan pengalaman saya di masa kuliah. Saya tahu, pada saat wisuda nanti tak sempat mengungkapkan sepatah atau dua kata atau lebih di panggung, layaknya acara perpisahan sekolah dimana ada pesan bagi mahasiswa yang meninggalkan.
Karena ini zaman modern, teknologi sudah canggih, menulis lewat blog sederhana ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Semoga dapat dibaca dan bermanfaat bagi seluruh mahasiswa bidikmisi se-Indonesia.
Baiklah, pertama mungkin saya akan mengungkapkan bahwa problem yang sering dialami mahasiswa bidikmisi adalah sulit mempertahankan IPK, terbawa arus pergaulan sehingga biaya hanya untuk hedonism, masih merasa kurang cukup dengan apa yang telah diterima.
Demikianlah yang sering terjadi di kalangan mahasiswa bidikmisi. Sebagai alumni mahasiswa bidikmisi, saya punya beberapa pesan kepada mahasiswa baru, agar Negara tak sia-sia membiayai pendidikan mu.

1.Berpikir cerdas, kreatif dan tidak bergantung pada beasiswa saja.

Hai you para penerima beasiswa bidikmisi, banyaknya mahasiswa dibiayai oleh Negara tentunya dengan biaya yang tak sedikit. Mungkin kamu adalah tipe orang sukanya “yang penting terima tiap bulan, yang penting SPP udah dibayarin”. Hai sadarilah! Sejatinya bukan seperti itu mahasiswa bidikmisi yang diharapkan oleh Negara. Kamu harus beripikir cerdas dan kreatif agar mampu mewujudkan slogan “Memutus mata rantai kemiskinan”. Mungkin kamu akan menghadapi problem lambat cairnya dana beasiswa. Tidak dapat dipungkiri, hal demikian akan kalian alami. Lalu, bagaimana cara antisipasinya?
Ya, mulailah kamu berpikir lebih kreatif lagi, tak hanya sekedar mempertahankan IPK, tapi juga lakukan hal lain di kampus mu. Contoh kecilnya adalah berwirausaha. Biaya SPP ditanggung, ada biaya buku dan juga biaya hidup. Mau apalagi? Semua sudah ditanggung, kita seolah-olah tinggal terima gaji saja.
Sebenarnya, biaya pendidikan yang sudah menjadi hak kita, bisa dimanfaatkan untuk modal usaha. Agar uang nya bisa diputar dan kamu tak perlu rempong lagi utang sana-sini untuk bayar kost, pada saat uangnya lambat cair.
“Kak, pengeluaranku banyak!” .. Hai, cek dulu, duitnya kemana? Apa ke Mall-mall buat nonton di bioskop, atau beli hp mewah?
Sadarilah, uang akan cepat habis sementara bila kamu jadikan sedikit saja sebagai modal usaha, uang mu akan berputar.
Kalau kamu masih takut membuka usaha, carilah kerjaan yang sifatnya part time. Mungkin ini akan lebih baik daripada kamu harus nganggur menunggu cairnya uang dan cari pinjaman. Bahaya loh kalau misalkan kamu harus ngutang, duitnya cair cuma pake bayar utang doang.

2.Manfaatkan Biaya Pendidikan mu juga untuk Pengembangan dirimu

Daripada kamu harus mengoleksi alat kosmetik yang harganya cukup mahal, atau mungkin main game sana-sini, pacaran gak jelas ngabisin duit Negara, mending duitnya kamu sisihkan untuk membeli buku yang bisa menunjang pengembangan dirimu. Kalau saya dulu, suka mengoleksi buku bacaan (bukan komik yaa), buku perkuliahan, atau buku pengembangan softskill.
Zaman sekarang waktunya kamu belajar meng-global. “Belum bisa bahasa inggris? TOEFL mu gak naik-naik juga?” Biaya bidikmisi yang sudah diserahkan ke kamu bisa dimanfaatkan untuk mengikuti les bahasa inggris/TOEFL. Lumayan loh buat bekal melanjutkan studi S-2.

3.Bidikmisi itu beasiswa bergengsi jangan sampai orang beranggapan bahwa negara salah bidik beasiswanya ke kamu.

Standar IPK yang harus dicapai bagi penerima bidikmisi itu 3,00. Masa’ pertahankan IPK segitu aja kamu gak bisa. Alasannya apa? Susah kuliahnya? Tugasnya rumit, nilai ujiannya anjlok?
Solusinya, kamu harus pandai bergaul. Berkawanlah dengan mereka yang punya kemampuan akademis melebihi kamu. Agar ketika kamu punya masalah dengan kuliah mu, kamu bisa sharing sama mereka. Jangan gaulnya sama anak nongkrong, mau jadi apa kamunya? Bisa-bisa IPK mu gak sesuai harapan dan akhirnya orang beranggapan ke kamu bahwa Negara salah bidik.
Selain itu, kamu juga bisa mencoba mengikuti beberapa ajang/lomba di kampusmu seperti Program Kreativitas Mahasiswa, Pertukaran pemuda atau olimpiade. Usahakan kamu punya prestasi lebih selain di dalam kelas. Selain mengharumkan kampusmu, orang2 akan beranggapan bahwa Negara memang tidak sia-sia membiayai kuliah mu.

4.Investasi untuk masa tugas akhirmu

Meskipun perbulannya kamu terima uang, tapi sebaiknya kamu sisihkan juga beberapa persen untuk ditabung. Yang paling penting adalah biaya pada saat penyelesaian studi, mulai dari KKN, skripsi sampai wisuda. Apalagi kalau kamu lulusnya tidak tepat waktu, boleh jadi bakal bayar SPP lagi. Nah, kalau sudah sperti ini, apa kamu mau nelpon ke orangtua untuk minta kiriman uang? Sebaiknya jangan! Sudah terlalu sadis jikalau diakhir kuliah mu harus meminta biaya ke orang tua, apalagi lulusnya lambat -_-.

Sekian tips dari saya, semoga bermanfaat bagi teman-teman penerima bidikmisi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *