Cerita tentang Momen Wisuda dari seorang PressGraduate

Hari ini, tepat satu bulan saya diwisuda.
Setelah menjalani yudisium pada 17 Juni 2016 lalu, hampir saja saya tidak dapat mengikuti wisuda angkatan 84 hanya karena telat daftar wisuda.

Nomor urut 314 yang ku dapatkan. Mungkin ini yang disebut keberuntungan, sebab kabarnya kuota wisudawan FKIP hanya 300 orang saja. Ah sudahlah, yang penting Wee, Sudahhh 😀

Sebenarnya momen wisuda ini tidak begitu spesial bagi ku seperti yang dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa lainnya. Sampai-sampai mereka hunting baju kebaya, sepatu, cari lokasi make-up jauh-jauh hari. Beda halnya dengan saya, mungkin karena terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas baik ngajar maupun urusan bisnis, akhirnya saya lupa mempersiapkan segala sesuatunya. Justru kedua orangtua saya begitu antusias dalam hal persiapan menghadiri momen wisuda ku kali ini. Sampai-sampai ibu dan bapak menjahit pakaian seragam batik bersama adikku pula, layaknya pejabat yang akan menghadiri upacara 17-an.

Mungkin karena saya adalah anak pertama yang baru-baru saja dalam keluarga kecil ini diwisuda. Ah, demikianlah potret kedua orangtua saya yang begitu menghargai pendidikan. Sedari kecil saya memang selalu mendapat dukungan penuh dari orangtua dalam hal pendidikan. Mulai dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP saya selalu diantar ke sekolah. Panas, hujan kendatipun salah satu dari mereka baru pulang kerja, mereka tetap menjemput saya tepat waktu. Selain itu, saat masuk di bangku kuliah pun bapak saya masih menemani ku saat melakukan registrasi mahasiswa baru. Demikian halnya pada saat ormik yang dimana kami harus pergi subuh agar bisa tiba di kampus jam 6 pagi. Terima kasih bapak, sudah menjadi bapak yang setia mendukung jejak pendidikan ku.

Meskipun kedua orang tua saya bukanlah dari kalangan orang berpendidikan tinggi, namun mereka sangat menghargai pendidikan tinggi yang saya peroleh. Apalagi, saya sempat menjadi ketakutan bagi mereka jikalau saya tidak lulus bahkan DO.

Mungkin saya yang terlalu mengabaikan segalanya, mulai dari penyewaan toga wisuda, cari tempa make up, mempersiapkan sepatu, kebaya dan lain-lain.
Toga wisuda saya peroleh H-3 sebelum kegiatan padahal semua teman-teman ku sudah menyewa dari jauh-jauh hari krena takut kehabisan. Karena saya sudah tahu kualitas bahan kain yyang dihunakan, dengan entengnya saya bilang “kalau habis ya jahit lagi” 😀
Ah mungkin, rekan saya begitu perhatian. Si Ismi yang kelak bakal jadi tukang jahit handal di seantero Palu, Ia mengingatkan agar jangan menganggap remeh keadaan, iya kalau orangnya mau jahitkan kalau ng-gak gimana?
Untung saja rok dan kebaya sudah siap dari jauh hari. Nah ini lagi, sepatu baru aku siapin H-1 acara wisuda. Elehhh apa-apa deadline bikin deg-deg an aja.

Hari wisuda pun tiba, sejak subuh ayah mengantarku ke salon.
Lagi maraknya kasus begal, saya jadi ketakutan setiap ada orang lewat di belakang kami. Saya pun berdoa semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan kepada keluarga kami.
**
Terenggg jam pukul 06:30 saya baru selesai di make up… Yuhu makasih yak rekan2 Nursanggupi Salon… MUka ku dipermak abis dan sempat pangling sama muka sendiri. Mayan lah hasilnya… Beberapa teman mengganggap hasil make upnya bagus… Ye, sekedar saran kalau mau hasil make up lu bagus, pake pakaian yang warnanya soft, gak mencolok apalagi gelap. :D. Cie, udah bisa jadi konsultan make up ya, gak lahhh biasa aja keles… ini juga berkat rekan ku waktu kuliah si Nanda Mifta dan Melin yang doyan banget kalau aku ajak diskusi soal make up..
Selanjutnya aku diantar Ayah ke kampus. Lewat pinggir pantai talise, Paaa jangan Laju yaaa bulu mata ku mau copot -_-.
**
To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *