Menjadi Guru adalah Panggilan HATI Bukan GAJI

Hari itu, dimana saya sedang merasa kebingungan bagaimana saya bisa menyibukkan diri di pagi hari. Sementara usia sarjanaku sudah berjalan sebulan lebih, pasca yudisium. Sebenanrnya, kalau mau dibilang pengangguran juga tidak, sore harinya aku ngajar matematika di sebuah education club dan sekolah swasta. Tergabung dalam 2 tempat itu pun bukan sekedar mencari nafkah belaka, namun ada misi tersendiri bagiku. Pertama, menjadi bagian dari mentor education club itu pun adalah sebuah perjuangan. Ya perjuangan merintis sebuah tempat dimana anak-anak bisa belajar matematika dengan amat menyenangkan. Karena di tempat inilah kami menerapkan konsep matematika berdasarkan kehidupan sehari-hari atau yang sering disebut matematika realistic. Tidak mudah tidak pun kesulitan, sebab ini adalah tempat perdana di Kota Palu yang menerapkan konsep pembelajaran yang anti mainstream.

Ngajar anak SD sebenarnya bukan pertama kalinya, sebelumnya pada saat masih kuliah aku sudah ngajar anak SD di salah satu sekolah swasta di Kota Palu dan privat anak SD kelas 3. Jumlah siswanya masih terbilang sedikit. Kalau sekarang saya ngajar di sekolah swasta yang jumlah siswanya lumayan banyak dalam satu kelas. Dari sinilah saya belajar manajemen kelas.
Beda lah ngajar anak SMP sama anak SD. Apalagi anak-anak era 2000 an ini sudah terkontaminasi dengan namanya gadget, belum lagi manja-manjanya itu loh.. Ah sudahlah, namanya juga anak-anak. Aku mau ngeluh blab la bla juga mereka tetep anak-anak koq. Dari kita nya aja yang pinter bawa diri. Anggaplah belajar urus anak hahai.
Karakter siswa pun macem-macem loh… Ada yang emang bawaannya cerewet, pendiam dan biasa-biasa aja. Tapi disinilah saya belajar namanya sabar lahir dan bathin… Kalau mau belajar sabar, jadilah guru.
**
Pagi-pagi habis nyapu ruang tamu tiba-tiba handphone ku bunyi. Tereng, panggilan masuk dari guru ku waktu di MTs.
“Assalamu’alaikum, Nak bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik bu.. Ada apa ya?”
“Kamu sudah selesai kuliah?”
“Alhamdulillah bulan lalu saya yudisium ini tinggal nunggu wisuda.”
“Jadi kamu sudah ngajar?”
“Iya Bu saya ngajar sore saja.”
“Jadi gini nak, sekolah ini lagi kekurangan guru matematika. Kamu bisa ngajar disini?”
“Oh iya bisa bu.”
_______________
Entah magnet apa yang mencoba menarik hati masuk ke lingkungan itu.
Yah, lingkungan yang sudah 8 tahun ku tinggalkan pasca kelulusanku dari sekolah itu. Semangat berbagi pun kembali hadir. Dalam hati saya niatkan untuk berbagi. Ya berbagi ilmu yang telah ku dapatkan selama di bangku kuliah. Tak peduli seberapa besar gaji yang ku peroleh, sebab Tuhan sudah memberikan rezeki kuliah gratis selama 4 tahun.
Awalnya saya ingin mendaftar SM3T, namun sayangnya ijazahku belum ada. Ya sudah, berbagi pun tak harus jauh-jauh, dimana ada tempat yang membutuhkan selagi mampu kenapa tidak kita turut hadir ke dalam lingkungan itu.
Perlahan saya mencoba menceritakan pada kedua orangtua perihal rencana ku akan mengajar di sekolah itu. Ayah Ibu pun setuju, dengan niat ikhlas mereka tak menuntut aku harus menjadi guru di sekolah ternama dengan gaji yang tinggi. Ya mungkin ini adalah takdir, kami terlahir sebagai orang-orang yang tak melulu mencari keuntungan. Tapi ya, sebagai pedagang, bapak ibu ku tentunya juga mencari keuntungan, kalau nggak? Mau makan apa kami haha 😀
Lalu bagaimana dengan bisnis yang sudah saya jalankan? Tentu akan tetap jalan meskipun saya benar-benar harus bekerja keras mempertahankan segalanya. MUlai dari semnagat pribadi bahkan semangat Tim agar tidak kendor.
***
Sebenanrya sudah banyak yang bertanya berapa banyak sih gaji mu sebagai guru honorer?
Saya koq risih disebut sebagai guru honorer? Panggil aja Guru Tidak Tetap alias GTT haha :D. Sebab saya lebih senang dengan sebutan wiraswasta ketimbang honorer. Meskipun kenyataannya ya kayak gitu.
Kadang saya Cuma bisa jawab, gak banyak sih. Lalu, mereka pun menimpali pertanyaan baru, apa kamu gak merasa rugi dengan gelar mu? Hello, sampai detik ini pun saya tersadar bahwa setiap pemuda punya pandangan masing-masing. Dan saya tak bisa menyalahkan pandangan mereka. Sebab hidup harus realistis bukan sekerdar idealis saja. Namun, sebagai wujud rasa syukur ku saya rela mengabdi di tempat ini karena kuliah gratis yang sudah saya terima dari pemerintah. Toh, kalau pun butuh hidup, saya harus mencari dengan cara lain bukan dengan mengharap gaji. Saya kadang merasa miris bila melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, banyaknya alumni jurusan keguruan, namun masih juga banyak sekolah yang kekurangan guru. Ya karena itu tadi, diantara alumni itu masih banyak yang berbeda pandangan. Mungkin kali ini saya hanya ingin sekedar mengajak para alumni untuk mengubah mindset. Bahwa pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Sudah pantaslah kita hadir sebagai orang terdidik untuk membangun generasi di masa depan. Kalau toh kita punya kebutuhan hidup itu pun sangat jelas, tak perlu dirincikan. Hanya saja, kita terlahir sebagai manusia bukan hanya sekedar menunggu. Kita diberi ruang waktu 24 jam. Tak ada salahnya mencari di tempat lain, agar kebutuhan hidup terpenuhi dan kewajiban kita tetap tertunaikan.
Mungkin ada rasa sedikit bersalah sampai hari ini saya merasa belum begitu total mengabdikan diri sebagai seorang pendidik. Saya hadir hanya pada jam mengajar saja. Sementara jam lain saya gunakan untuk mencari di tempat lain.
Hanya saja, dalam kesempatan menjadi seorang guru adalah pilihan yang sudah ku jatuhkan sejak lulus SMA. Dan sekarang sebagai seorang tenaga pendidik, pilihan pun tetap ada. Sekedar ingin menjadi guru kurikulum atau guru inspiratif? Guru kurikulum yang saya maksud adalah guru yang selalu merasa dituntut untuk mengejar silabus tanpa mempedulikan nasib siswa yang entah bisa mengikuti pembelajaran atau tidak. Namun, guru inspiratif yang dimaksud adalah guru yang senantiasa memotivasi siswa, membuat siswa terlibat aktif dalam belajar tanpa harus memaksa dan terus berinovasi menemukan pola pembelajaran yang tepat.
Sekarang saya sedang berusaha menjadi sosok guru inspiratif, menjadi partner terbaik siswa dalam belajar dan membantu mereka menemukan kemudahan dalam belajarnya. Semoga segala niatan baik ini diberkahi oleh Allah SWT. Aamiin…
Selamat Hari Guru Nasional 2016.
Ana Puji Lestari, S.Pd
(Mentor Matematika)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *