Guru itu Mendidik bukan Sekedar Mengajar, Saatnya Kita Memerdekakan Siswa

17 Agustus adalah hari kemerdekaan Indonesia, setiap warga Negara Indonesia punya caranya masing-masing dalam memaknai arti kemerdekaan. Salah satunya adalah dengan melaksanakan upacara bendera, sebagai wujud terimakasih sekaligus mengenang jasa para pahlawan terdahulu.

Berbicara soal kemerdekaan, ada banyak hal yang dapat ditinjau entah itu dari segi ekonomi, social, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya tertarik menyoroti kemerdekaan Indonesia dari segi pendidikan. Dengan merefleksi diri sebagai tenaga pendidik. Apakah sudah layak dikatakan seorang pendidik atau hanya sekedar pengajar, ini menjadi cara tersendiri bagi saya dalam memaknai kemerdekaan Indonesia yang ke 72 tahun ini.

Dunia pendidikan di era saat ini, beberapa orangtua menganggap bahwa tolak ukur kesuksesan anaknya dalam menempuh pendidikan selalu berorientasi pada reputasi akademis. Contohnya, dengan meraih juara satu di kelas, jago matematika, sains atau mungkin fasih dalam bahasa inggris.

Kini, saya telah menjadi bagian dari tenaga pendidik. Bagi saya, pandai dalam bidang sains, matematika atau bahkan mahir berbahasa asing adalah suatu hal yang tidak mutlak harus ada dalam diri seorang siswa. Boleh dikata itu adalah kemampuan sekunder yang dapat dimiliki oleh siswa. Pendidikan yang paling utama adalah pendidikan karakter.
Banyak siswa yang pandai, mendewakan nilai matapelajaran sebagai tolak ukur kesuksesannya, namun sayang sekali masih sering ditemui siswa yang kurang menghargai gurunya bahkan orangtuanya sendiri.

Perilaku anak tergantung bagaimana orangtua bersikap terhadap anak tersebut. Karena sebenarnya, bagaimana cara orang tua memperlakukan anaknya, itu adalah cara orangtua mendidik anak menjadi orang tua di masa depan nantinya.

Orangtua yang kasar terhadap anaknya, membuat anak menjadi pembangkang. Alhasil, di lingkungannya, anak bersikap seenaknya dengan teman-temannya. Maka tak heran pula jika sering ditemui kasus perkelahian antar pelajar yang disebabkan oleh persoalan kecil di mana anak sulit untuk memahami kawannya yang lain.

Manakala terdapat perilaku siswa yang melanggar aturan di sekolahnya, justru guru malah menghukumnya dengan memarahi bahkan ada pula yang melakukan kontak fisik dengan siswa tersebut. Kondisi ini justru menjadi bumerang bagi siswa itu sendiri. Saat siswa di cap nakal oleh gurunya, siswa seolah merasa tertekan, merasa acuh dan menganggap bahwa dirinya tidak ada apa-apanya bahkan ada rasa minder dalam dirinya karena sudah diberi label “Anak Nakal”. (Berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi guru di sekolah)

Dalam studi yang dilangsungkan terhadap ratusan orangtua anak berusia 13 tahun di Filadelfia, Amerika Serikat para peneliti menanyakan frekuensi berteriak, memaki, atau melabeli anak dengan kata-kata seperti “bodoh” atau “pemalas”. Diketahui, banyak dari 900 orangtua pernah menggunakan hukuman berupa kata-kata kasar kepada anaknya. Sebanyak 45% ibu mengaku pernah melakukannya, dan 42% ayah mengaku pernah melakukannya.
Ketika dibandingkan dengan tingkah anak, anak usia 13 tahun yang sering dimarahi dengan kata-kata kasar cenderung bertingkah nakal dan mengalami masalah serius. Anak-anak yang sangat sering dimarahi dengan kalimat-kalimat kasar di usia 13 tahun cenderung menunjukkan tanda-tanda depresi ketika menginjak usia 14 tahun.
Asisten profesor psikologi di University of Pisttsburgh, AS, yang juga pemimpin penelitian ini, Ming-Te Wang, mengatakan, tak peduli seberapa sering dan keras orangtua berteriak, anak remaja tak akan mendengar. Malah hanya memperparah keadaan dan mengakibatkan ketegangan hubungan orangtua-anak. (Sumber: Psychology Today dalam beritasatu.com)

Kazdin mengatakan, mengurangi teriakan anak akan menjadi salah satu cara untuk mengurangi “racun” dalam lingkungan keluarga: mengurangi stres, mengurangi eksposur terhadap kekerasan, dan mengurangi hukuman yang bersifat menyakiti. Kazdin menyarankan orangtua untuk berfokus pada pola mengasuh yang bersifat membangun aktivitas dan rutinitas keluarga.

Ditekankan Kazdin, belum diketahui persis/spesifik dampak buruk dari teriakan hukuman/kemarahan orangtua kepada anak di kemudian hari. Namun, yang pasti, tambahnya, teriakan kemarahan, rentetan ucapan buruk, memukul, dan hukuman kasar lainnya pada anak tidak akan membantu mempersiapkannya menghadapi permasalahan dalam hidup di kemudian hari.

Sementara Wang berpendapat, hubungan orangtua-anak bersifat timbal balik. Dibutuhkan intervensi pada kedua pihak untuk mencari jalan terbaik dalam hal pengasuhan demi menjalankan kehidupan yang lebih bahagia (Sumber: Psychology Today dalam beritasatu.com)

Pemaparan di atas sebenarnya bukan hanya diperuntukkan bagi orangtua dalam mendidik anaknya, namun menurut saya hal ini berlaku pula bagi guru dalam mendidik siswa di sekolah. Sebab, guru adalah orangtua kedua siswa saat berada di sekolah. Bagi saya, pembahasan seperti ini menarik untuk dikaji. Sebab tanggung jawab seorang guru bukan hanya sekedar mengajar tapi ada tanggung jawab moral dalam mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Hendaknya guru tidak hanya sekedar mahir dalam mentransfer ilmu matapelajaran yang diampu namun juga memiliki kepedulian terhadap perilaku siswa.

Saat berada dalam kelas, saya selalu menekankan pada siswa bahwa saya tidak menuntut banyak ke mereka bahwa mereka harus pintar matematika, nilainya bagus-bagus. Tapi, hal utama yang selalu saya tekankan adalah soal kesopanan dan kedisiplinan siswa di sekolah. Saya meyakini bahwa dengan sikap yang santun dan disiplin maka sikap yang lain akan mengikuti. Termasuk semangat siswa dalam belajar dengan sendirinya akan terbentuk.
Kadangkala saya pun harus bersikap tegas ketika menemui siswa yang melanggar aturan bahkan bersikap yang kurang wajar. Sebab, mendidik tak harus keras, dibutuhkan ketegasan agar siswa paham bahwa ada hal yang keliru yang sudah diperbuat.

Baiklah, tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi diri sekaligus self reminder bagi saya pribadi sebagai seorang guru. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
Songgo Mpoasi, Tabe.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *