Menjadi Guru-nya Anak Indonesia

CATATAN KECIL
March 18, 2018

Sejak kecil tidak pernah terbayangkan sama sekali bagi saya untuk menjadi seorang guru. Bagi saya, menjadi guru adalah pekerjaan yang sulit. Melihat beberapa pengalaman guru saya pada masa sekolah dulu. Namun, seiring berjalannya waktu, sejak kelas 2 MA saya sudah belajar menjadi seorang mentor bahasa Perancis di sekolah saya. Waktu itu saya diberi kepercayaan oleh guru saya untuk menggantikan beliau mengajar. Alhamdulillah pada saat itu saya tidak terpikirkan sama sekali rupanya beliau membayar saya 1 kali pertemuan itu Rp. 30.000,- (tinggal dikali 10). (Wah, sering-sering ikut diklat ya bu, biar saya gantikan terus.. begitulah yang saya pikirkan saat itu haha 😀 )

Kemampuan mentransfer ilmu sebenarnya sering saya lakukan dengan menjadi mentor dalam komunitas sewaktu sekolah dulu bahkan di perkuliahan pun saya diminta oleh dosen saya untuk mengajarkan tentang cara membuat, mendesain dan membangun sebuah blog. Saya menganggap ini adalah jalan bagi saya untuk berbagi atas segala ilmu yang saya peroleh baik secara otodidak maupun pembelajaran yang saya peroleh di lingkungan sekolah, kampus dan komunitas.

Kalau ditanya apakah menjadi guru adalah sebuah cita-cita? Bagi saya sama sekali bukan cita-cita. Lah kenapa bukan cita-cita guru terus kuliahnya di fakultas keguruan? Ah, sudahlah saya mungkin hanya tersesat. tapi, beruntungnya saya tersesat di jalan yang benar. hehe…
Lalu, sebenarnya apa cita-cita saya? Menjawab pertanyaan seperti itu, bagi saya saat ini bukan lagi cita-cita tapi VISI. Ada sebuah visi kdepan bagi saya yakni menjadi bagian dari kemajuan bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan.
Jika saat ini, saya sedang mengajar di sekolah, ini hanyalah sebagai aktivitas permulaan bagi saya untuk mencapai visi tersebut. Jika dipertanyakan kembali bagaimana dengan visi jangka pendek saya? Jawabannya adalah menjadikan anak madrasah mampu bersaing dibidang matematika. Sering saya berkhayal bahwa saya ingin seperti Bpk. Yohanes Surya, yang punya kemammpuan mengubah anak Indonesia yang di bawah rata-rata memiliki kemampuan di bidang matematika bahkan bisa menjadi Juara Olimpiade Internasional. Tak usah jauh-jauh sebenarnya saya bisa lakukan dimulai skala kecil yakni di sekolah saya sendiri. Dan pada akhirnya saya mengambil keputusan untuk membangun kelompok atau club matematika yang seblumnya belum ada di sekolah ini. Tujuan saya adalah menjaring anak-anak yang mempunyai bakat di bidang matematika dan memberdayakan mereka agar bisa berbagi dengan temannya dalam hal khususnya pengatahuan matematika tingkat dasar. Bahkan saat ini, para member mathematics club tersebut saya beri tantangan agar bisa mengajari temanya sampai bisa. Sehingga, tidak ada lagi alasan bagi siswa untuk tidak bisa dalam hal matematika dasar seperti penjumlahan, pengurangan dan pembagian.

Dalam setahun ini, saya diminta untuk menjadi mentor olimpiade matematika dan persiapan UN di beberapa sekolah. Menjadi mentor dibeberapa sekolah merupakan sebuah hal yang patut disyukuri bagi saya karena perlahan rupanya Tuhan membuka kan jalan bagi saya untuk menjadi mentornya Anak Indonesia Kota Palu :P. Dan kesempatan ini menjadi ajang belajar sekaligus mengembangkan diri untuk menjadi guru yang mampu membawa perubahan bagi anak Indonesia.

2 thoughts on “Menjadi Guru-nya Anak Indonesia”

  1. Intan Rukmana says:

    Amazing

    1. Makasih Bu Intan yang luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *