BERPIKIR OPTIMIS TIDAK ADA RUGINYA

Tahun 2017 lalu saya sempat kepikiran dan berniat untuk sekolah lagi. Untuk apa? Saya merasa semenjak mengabdi di sekolah, diri ini masih butuh ilmu yang lebih dalam. Dan memang Belajar Sebagai Kebutuhan sudah merasuki pikiran dan hatiku. Hingga akhirnya aku berniat untuk melanjutkan studi melalui beasiswa.

Sebagai wujud syukur ku kepada Allah SWT dan bangsa Indonesia, saya rela mengabdi kembali di madrasah tempat saya dulu bersekolah. Niat saya Cuma satu “Berusaha membawa nama baik Madrasah tersebut agar bisa dikenal melalui prestasinya”.

Saya sempat membimbing beberapa siswa di tahun 2017 lalu, Alhamdulillah mereka dapat bersaing diluar lingkungan madrasah. Namun, ya hasilnya belum bisa membuat madrasah tersebut unggul seperti sekolah lainnya yang memiliki reputasi yang baik karena prestasinya.
Sempat stalking ke beberapa sekolah unggulan, rupanya ada hal yang membuat niat belajar saya semakin tinggi yakni ketika saya tahu bahwa taraf pendidikan guru di sekolah unggulan rata-rata memang memiliki jenjang pendidikan hingga S-2. Bahkan beberapa sekolah juga sering mengundang para dosen untuk menjadi mentor olimpiade. “Apalah aku hanya remah-remah rempeyek yang harus bersaing mentransfer ilmu dengan para guru hebat seperti mereka”.

Bulan April 2017 sembari mempersiapkan siswa ku mengikuti Kompetisi Sains Madrasah tingkat Provinsi saya juga mencoba mendaftar beasiswa LPDP.. Boleh dikata pada saat itu memang saya sangat berambisi untuk lanjut studi.
Namun, niat saya kandas setelah melihat hasil assesment online bahwa saya dinyatakan TIDAK LULUS.

Kala itu saya merenung, ada niat yang harus diluruskan, ada pengabdian yang harus dilakukan secara tulus, ada persiapan yang harus saya lakukan dengan matang. Karena, saya menyadari penyebab kegagalan saya saat itu adalah KURANG FOKUS.

Hari berikutnya setelah pengumuman bagi saya begitu suram. Kadang merasa apakah aku akan hidup biasa saja? Hidup hanya untuk sekedar sekolah rumah sekolah rumah. Maka saat itu aku mulai menyibukkan diri dengan memperluas pengabdian sebagai guru olimpiade untuk beberapa sekolah dan guru les privat. Tujuan saya adalah agar bisa berinteraksi dengan rekan-rekan di luar lingkungan madrasah.

Saya pun sempat konsultasi dengan salah seorang rekan terbaik saya yang kini telah menjadi dosen. “kak, saya bingung..” hidup saya kedepan seperti apa dan saya harus gimana? Saya mau sih kuliah tapi gak enak meninggalkan semua yang sudah saya jalankan disini. Beliau hanya menjawab” saya menilai keinginan kuatmu adalah sekolah lagi, iya kan?

Sebulan setelah pengumuman saya mencobaa move on dari kenyataan sebelumnya. Saya mulai melakukan evaluasi terhadap diri saya agar kedepan harus semakin meningkatkan kualitas diri. Terutama dalam hal KETULUSAN dalam PENGABDIAN. Bukan hanya itu saja, saya pun belajar menjaga INTEGRITAS dalam diri saya. Mencoba MEMPERBAIKI KEPRIBADIAN saya, bagaimana sebagai seorang pemimpin masa depan.

Saya adalah orang paling berbeda di antara keluarga saya, memiliki keinginan kuat agar masa depan saya tidak biasa. Termasuk dalam hal meningkatkan taraf pendidikan yang lebih tinggi. Bukan untuk sekedar memperoleh label pendidikan tapi bagaimana agar saya benar-benar memperoleh ilmu sesuai kebutuhan agar bisa menjadi investasi bagi saya dalam memperluas pengabdian ku di bidang pendidikan. Memang sejak lulus saya bertekad untuk menjadi salah satu orang yang punya pengaruh di bidang pendidikan. Saya terinspirasi dengan sosok Yohanes Surya yang luar biasa bisa membimbing siswa daerah untuk berprestasi di ajang olimpiade. Maka dari itu saya memulai dari lingkungan terdekat yakni menjadikan anak madrasah juga punya kemampuan berkompetisi di bidang matematika.

Hari-hari saya lalui dengan membimbing siswa secara sukarela agar memiliki kemauan belajar matematika dan memiliki kemampuan dalam berkompetisi. Januari hingga April 2018 saya aktif membimbing siswa untuk persiapan KSM. Sambil membimbing siswa saya juga mempersiapakan diri untuk kembali mendaftar beaisiswa incaran saya yakni LPDP. Mengapa harus LPDP? Saya tertarik dengan beasiswa ini karena ada hal yang spesial yakni “KONTRIBUSI untuk NEGERI”. Olehnya itu di tengah persiapan melengkapi berkas saya begitu semangat menuliskan essay terkait kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan. Saya ingin menyampaikan mimpi saya melalui seleksi LPDP ini dan saya ingin LPDP bisa menjadi pewujud impian saya.

Dua minggu bergulat dengan essay, kemudian saya diamkan essay tersebut dan membacanya kembali untuk direvisi. Saya menjadi seorang penulis sekaligus reviewer tulisan saya sendiri. Memang ada beberapa rekan mencoba memberi ruang untuk membantu menjadi reviewer. Namun saya malu memperlihatkan tulisan yang saya buat. Berbekal ilmu menulis essay yang saya peroleh dari blogwalking, mengikuti seminar kepenulisan dan panduan penulisan essay LPDP akhirnya saya mampu menyelesaikan essay dan rencana studi tidak sampai 3 minggu.

Selain essay, ada berkas lain yang perlu disiapkan seperti TOEFL, surat keterangan sehat dan bebas narkoba serta surat rekomendasi. Pada saat pendaftaran beasiswa memang kita harus berani berinvestasi. Alhamdulillah rezeki yang saya peroleh selama ini bisa menjadi modal bagi saya tanpa harus membebani kedua orangtua ku.

Setelah berkas saya upload, selanjutnya saya menunggu hasil seleksi administrasi. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos dan lanjut ke tahap seleksi berbasis Komputer.

Saya menjalani aktifitas sebagai pengajar di madrasah, mentor olimpiade dan mentor privat dibarengi usaha untuk menempuh ujian berbasis komputer. Maka saya membagi waktu agar bisa belajar dengan fokus untuk persipan tes. Jam 7 pagi hingga jam 8.30 malam saya ngajar dan lanjut belajar sampai jam 10 kemudian bangun jam 3 subuh. Saat mulai lelah saya selalu ingat bahwa kalau usaha ku kali ini biasa saja, bagaimana nanti ketika aku benar-benar lanjut studi? Tentu tes ini sebagai ujian bagi saya apakah saya benar-benar siap belajar lagi?

24 Juli 2018 saya mengikuti seleksi Berbasis Komputer. Ada tiga tes yakni Tes Potensi Akademik, Soft Competency dan On The Spot Writing tesnya menggunakan sistem CAT dan dilaksanakan di BKN Kanreg IV Makasar.

Hasil tes SBK diumumkan dua pekan berikutnya. Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos dan lanjut ke tahap seleksi substansi.

Berbagai persiapan tetap saya lakukan bersama rekan-rekan dari Palu. Kami berenam belajar simulasi Leaderless Group Discussion via aplikasi discord setiap malam. Kami mulai membahas satu per satu isu terkini yang ada di wilayah Indonesia baik di bidang pendidikan, social, budaya ekonomi,kesehatan, dan lain-lain.

Saya juga berusaha keras mengais rezeki untuk keberangkatan tes substansi, mulai dari ngajar olimpiade, menjadi juri lomba mewarnai, dan job editing tulisan guru. Hasilnya saya tabung untuk biaya keberangkatan …

Rasa-rasanya masih mimpi bisa berada di lokasi seleksi substansi ini. Alhamdulillah saya sangat bersyukur Allah SWT masih memberikan kesempatan bagi saya merasakan bagaimana berbicara dihadapan para interviewer LPDP. Saya memang benar-benar bertekad untuk menyampaikan visi dan misi saya di bidang pendidikan.

Pada saat seleksi substansi tahap pertama adalah verifikasi berkas, Alhamdulillah berkas saya terverifikasi dan saya berhak mengikuti LGD dan Wawancara. Pkl. 13:45 saya mengikuti tes LGD, kali itu saya mendapatkan tema mengenai vaksin MR dan kaitannya dengan bonus demografi. Tema ini sempat saya baca dan menjadi isu hangat diperbindangkan di sekolah. Jadi saya lumayan lah bisa mengemukakan pendapat saya pada saat LGD. Selanjutnya pada tahap interview saya ikuti pada pukul 15:00. Selama dalam lift menuju ruang interview saya membacaQS. Al-Anbiya (87), dan QS. Taha (ayat 25-28).

Selama hampir satu jam. Saya diwawancarai mengenai kesiapan studi, nasionalisme, dan juga tentang kepribadian saya. Alhamdulillah tidak sedikitpun gemetar yang saya alami. Pertanyaan demi pertanyaan mampu saya jawab. Meskipun setelah wawancara ada sedikit keraguan apakah jawaban saya tadi sudah pas? Saya hanya percaya bahwa Allah SWT sudah punya rencana yang baik untuk ku.

Pengumuman hasil seleksi substansi yang seharusnya dijadwalkan pada 14 September 2018 harus diundur pada 20 September 2018. Lumayan 6 hari penasaran dengan hasilnya seperti apa. Saya hanya bisa berdoa’a berdo’a dan berdo’a agar diberi ketenangan hati saat menerima hasilnya.

Pkl. 20:15 saya membuka akun untuk melihat hasilnya.

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat rezeki ini.
Terima kasih kepada:
1.kedua orangtua saya Bapak Ibu yang senantiasa mendoakan saya …
2.kepada segenap keluarga ku
3.buat para siswa – siswi yang sudah mendoakan kebaikan untukku,
4.buat rekan-rekan yang turut mendoakan
5.kepada Bapak Dasa Ismaimuza, H. Ahyar, Ibu Hj. Rosmiati Barusin yang telah bersedia memberikan rekomendasi untuk saya,
6. Buat kak Fiki, kak Dika, kak Indri yang sudah menjadi mentor LGD dan wawancara serta penasehat bagi kami selama menuju seleksi SBK dan Substansi
7. Buat Dwi Warli sekeluarga yang telah menerima saya selama mengikuti seleksi SBK
8.Seluruh rekan terbaik yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang telah mendoakan saya.
9.Teman-teman pejuang beasiswa LPDP dari Palu..

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan untuk kalian, dan tetap menjaga semangat kalian agar terus berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik.

Semoga apa yang saya peroleh kali ini dapat menjadi Investasi  dalam memperluas pengabdian saya bidang Pendidikan di Indonesia.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *